Logo Shopkey
kedai makanan

Cara Menentukan Harga Jual Makanan Yang Sesuai

Makanan merupakan salah satu produk yang saat ini banyak diperdagangkan. Hal ini karena makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, namun tidak semua orang memiliki keahlian atau waktu untuk mengolah makanan supaya enak.

Makanan dijual dengan berbagai metode, mulai dari metode pemesanan seperti catering, metode langsung saji ala warung atau restoran, hingga metode penjualan khusus untuk makanan kaleng atau makanan yang sudah diawetkan.

Makanan juga bisa dijual di berbagai tempat, mulai dari kota hingga desa, banyak orang yang jualan berbagai makanan. Lalu, bagaimana cara menentukan harga jual makanan yang sesuai supaya untung? Mari kita bahas berikut ini:

1. Ketahui Metode Penjualan

Seperti yang telah disebutkan di atas, produk makanan dapat dijual dengan berbagai metode. Setiap metode tentunya memiliki cara menghitung harga jual makanan yang berbeda.

Jualan makanan catering misalnya, tentu akan menghitung harga dengan cara yang berbeda dengan jualan makanan kaleng. Hal ini karena pada catering, pembeli harus pesan dan memasukkan DP terlebih dahulu. Belum lagi pesanan harus disesuaikan dengan keinginan pembeli dan sifatnya terbatas. Hal ini tidak berlaku untuk makanan kaleng, mengingat makanan kaleng atau yang sudah diawetkan biasanya diproduksi secara masal.

Oleh karena itu, Anda harus mengetahui cara penjualan apa yang akan Anda lakukan. Apakah menjual makanan secara langsung dengan membuka warung, catering atau memproduksi makanan yang sudah diawetkan?

2. Catat Besaran Modal Yang Harus Dikeluarkan

Langkah kedua cara menghitung harga jual makanan adalah dengan mencatat besaran modal yang harus Anda keluarkan. Besaran modal ini terdiri dari dua komponen, yaitu modal awal dan biaya operasional.

Modal awal adalah sejumlah uang yang harus Anda keluarkan untuk membuka sebuah usaha, sementara biaya operasional adalah sejumlah uang yang harus Anda keluarkan untuk kegiatan operasional sehari-hari. Biaya operasional ini kemudian dibagi lagi menjadi tiga, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya lain-lain (overhead).

Pada awalnya, keuntungan sebuah bisnis tidak akan menutupi biaya modal dan biaya operasional. Keuntungan bisnis yang berkembang dengan baik kemudian dapat menutupi biaya operasional. Oleh sebab itu harga satu unit produk makanan yang Anda buat sebaiknya sama dengan rata-rata biaya operasional yang harus Anda keluarkan. Baru ketika keuntungan bisnis bisa menutupi total biaya modal dan operasional, bisnis tersebut dikatakan mengalami break event point (BEP/ balik modal).

3. Ketahui Nilai Harga Pokok Penjualan

price and value

Sederhananya, rumus harga jual dan total keuntungan adalah sebagai berikut:

Harga jual = P + Harga Pokok Penjualan (HPP)

P = Harga jual- Harga Pokok Penjualan (HPP)

TP = TR – TC

Keterangan:

P: Profit, keuntungan

TP: Total profit, total keuntungan.

TR: Total revenue, total pendapatan.

TC: Total cost, biaya total.

Perubahan metode penjualan akan berpengaruh pada perubahan harga pokok penjualan (HPP). Harga pokok penjualan (HPP) adalah nilai keseluruhan operasional produksi sebuah perusahaan. Dalam metode ini sudah termasuk total biaya produksi (harga pokok produksi atau cost of goods manufactured), jumlah bahan baku atau persediaan yang dibeli di tengah tahun dan jumlah persediaan yang tersisa pada akhir tahun.

Rumus HPP adalah HPP = Persediaan barang dagangan pada awal periode – Pembelian barang dagangan sepanjang periode – Persediaan barang dagang pada akhir periode.

Rumus di atas umumnya dapat digunakan jika produk makanan yang Anda jual adalah makanan jadi (Anda tinggal kulakan). Hal ini akan berbeda kalau Anda membuka warung atau restoran. Pada kasus seperti ini, rumus HPP menjadi HPP = Persediaan bahan baku pada awal periode – Cost of Goods Manufactured– Persediaan bahan baku pada akhir periode.

4. Tentukan Nilai Keuntungan Yang Ingin Anda Dapatkan

Setelah mengetahui nilai HPP, kini Anda bisa menentukan nominal keuntungan yang ingin Anda peroleh per produknya. Dalam hal ini, Anda bisa menggunakan 3 cara menghitung harga jual makanan, yaitu:

  1. Markup pricing dengan menentukan persentase keuntungan yang ingin Anda peroleh dibandingkan dengan nilai HPP. Misal, nilai HPP produk Anda adalah Rp5.000 per biji dan persentase keuntungan yang ingin Anda peroleh adalah sebesar 10%. Maka, harga jual adalah Harga jual = (P*HPP) + Harga Pokok Penjualan (HPP) = (10*5.000)+5.000=Rp5.500.
    Kelebihan dari metode ini adalah harga makanan tersebut akan meningkat ketika nilai HPP meningkat. Sebaliknya, kekurangannya adalah harga akan menurun kalau nilai HPP turun.
  2. Margin pricing dengan menentukan besaran harga jual atau nominal keuntungan terlebih dahulu. Misalnya, nilai HPP produk Anda adalah Rp5.000, dan Anda ingin mendapatkan keuntungan sebesar Rp1.000, maka harga jualnya adalah: Harga jual = P + Harga Pokok Penjualan (HPP) = 1.000+ 5.000= 6.000.
    Kelebihan metode ini adalah harga dan nominal keuntungan yang akan Anda peroleh tidak akan terganggu dengan perubahan nilai HPP yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Selain itu, metode ini juga relatif lebih mudah dicatat dan diterapkan.
  3. Keystone pricing dengan menetapkan besaran keuntungan sama dengan nilai HPP. Jadi, ketika nilai HPP Rp5.000, maka keuntungan yang ingin Anda peroleh adalah sebesar Rp5.000 juga. Akibatnya, harga jual adalah dua kali lipat HPP.

Meskipun tampak menggiurkan, namun penetapan harga jual yang satu ini tidak bisa diterapkan untuk semua produk makanan. Khususnya untuk produk makanan yang memiliki banyak pesaing, sebab pembeli bisa melihat selisih antara harga produk Anda dengan harga yang ditawarkan pesaing untuk produk yang sama. Jika makanan dijual secara online, Anda juga harus mengetahui cara mengambil keuntungan jualan online yang ideal agar bisa menetapkan harga yang tepat.

5. Tentukan Strategi Penetapan Harga

Selain besaran keuntungan yang diinginkan dan biaya, harga jual sebuah produk juga bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor non moneter. Faktor tersebut antara lain, harga yang ditetapkan oleh pesaing, target konsumen dan strategi penetapan harga. Sebab, ada beberapa golongan target konsumen yang akan langsung berpindah ke pesaing apabila Anda menaikkan harga sedikit saja.

Adapun strategi penetapan harga ini terkait dengan:

  1. Diskon pada waktu-waktu tertentu.
  2. Diskon untuk pembelian atau pemesanan dalam jumlah banyak.
  3. Harga bundling jika Anda memproduksi berbagai jenis makanan.
  4. Perbedaan antara harga jual di pasar tradisional dan supermarket.
  5. Perbedaan antara harga jual online dan offline.

Adanya diskon akan membuat pembeli lebih tertarik untuk membeli produk Anda sehingga dagangan bisa laris manis. Misalnya, Anda menjual makanan kaleng pada aplikasi online marketplace. Maka, Anda bisa menerapkan diskon khusus pada tanggal-tanggal kembar. Besaran diskon ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati, supaya membuat pembeli tertarik untuk membeli produk Anda, namun pada saat yang bersamaan, nilai diskon tidak membuat Anda merugi.

Harga jual merupakan komponen marketing yang harus diperhitungkan dengan baik oleh pedagang makanan. Tanpa harga jual yang tepat, makanan yang Anda jual bisa jadi tidak laku dan justru basi. Selamat mencoba.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadi, sudah siap memulai lembaran baru bisnis online kamu?

Mau Dapat News Letter Terbaru?

Bergabunglah dengan ribuan UMKM Indonesia meningkatkan penjualan dengan aplikasi dan tips dari Shopkey!

Note: Kami tidak menjual atau membagikan informasi anda kepada siapapun